Saya termasuk orang yang kecanduan medsos. Udah dekat ke FoMO kali ya. Tujuan utama saya akses medsos adalah untuk cari update informasi terbaru. Secara lah ya, informasi di medsos mengalir lebih deras daripada media umum. Walaupun belum pasti juga kebenarannya.

Akses ke medsos juga bagi saya adalah hiburan. Di tengah stress nulis laporan, misalnya - akses ke medsos bisa jadi peredam stress sejenak. Konten-konten yang dibagikan para warga medsos sudah cukup menghibur.


Tapi, di linimasa medsos bukan cuma ada konten menghibur. Disana juga mengalir konten-konten yang kadang bikin sesak napas. Apalagi saat rame even politik semacam pilpres dan pilkada kemarin. Buka medsos malah jadi tambah stress.

Politik dan media sosial
(sumber gambar: 
http://webdenker.ch/)

Satu tokoh yang belakangan terus terkenal adalah blogger (katanya sih dulunya blogger) yang selalu muncul dengan pernyataan kontroversial-nya. Sebut saja Mr J. Melalui laman/page-nya di Facebook, si bapak itu rajin dan tekun sekali menyebarkan konten-konten yang menyulut komentar pro dan kontra. Komentarnya lebih banyak ditujukan untuk politikus yang berkuasa sekarang. You know what I mean...


Saya nggak ada kepentingan sama pihak manapun, tapi saya mau bilang kalo saya nggak suka sama cara beliau. Nggak suka caranya loh ya, bukan sama orangnya. Apakah karena paham politik saya berseberangan sama beliau? Nggak kok. Saya sama dengan beliau, mungkin. Hanya saja, menurut saya he is too much...

Maka sejak dari awal beliau muncul, lalu ngetren, saya nggak pernah berniat untuk follow page-nya. Saya nggak mau pusing aja ngeliat komentar pro dan kontra yang muncul di setiap konten yang beliau sebar.

Tapi, yang ngeselin adalah konten-konten itu tetap aja mengalir di timeline saya. Kok bisa? Karena algoritma Facebook yang memungkinkan itu. Teman-teman yang kebetulan mengikuti page beliau, nampaknya rajin sekali like dan bahkan share konten-konten itu. Lalu semua temannya termasuk saya, pasti baca juga semua kontennya.

Ya kita mah nggak tau ya itu konten emang bener atau nggak. Saya nggak peduli itu. Yang bikin saya 'jijik' adalah keributan yang ditimbulkannya. Itu yang bikin sesak napas.

Maka, sampai lah saya pada satu ide, putusin aja dia! Haha *ketawa iblis*

Yap. Ane futusin ente. Saya block semua konten yang berasal dari page beliau. Walhasil, timeline saya sekarang bersih dari konten beliau. Hati pun jadi lebih adem. Akses medsos bisa jadi hiburan lagi.


Untuk akun pribadi, bahkan akun teman sendiri, kalo konten-nya sering bikin sesak nafas juga biasanya saya putusin.

Putusin gimana rif?



Bukan saya block, tapi saya unfriend. Haha

Toh nggak berteman, atau ngeblock akun sosmed seseorang, bukan berarti bermusuhan di dunia nyata kan?

Ane futusin aja ente!