Kemarin, 10 menit jelang berbuka puasa. Seperti biasa, acara TV jadi teman menanti buka puasa. Aku, bapak, ibu, dan adik-adik memang biasa buka puasa bersama di rumah dengan TV menjadi pencair suasana, menjadi bahan obrolan dan candaan. Hingga muncul iklan produk bumbu masak siap saji, ibu pun berkomentar.

Ibu: "Sekarang masak makin gampang. Bumbu-bumbu udah siap. Tinggal pake"

Dan tiba-tiba bapak menimpali.

Bapak: "Itulah makanya. Teknologi semakin canggih, semakin membuat orang malas"

Lalu bapak juga nambahin komentar-komentar dan contoh-contoh lainnya. Ibu cuma mengangguk mengiyakan. Sambil tetap fokus ke TV.

Aku dalam diam membatin, "Hmm.. kyknya bapak lupa nih. Anaknya ini pernah kuliah di jurusan teknik, fakultas teknik. Anaknya ini seorang engineer/insinyur. Yang pernah belajar kenapa dan bagaimana teknologi ditemukan"

Lalu saat komentar bapak dan ibu habis, suasana tenang, aku dengan sedikit bercanda, ikut menimpali
Aku: "Ya udah, kalo gitu para orangtua jangan ada lagi yang nyekolahin atau kuliahin anak-anaknya ke fakultas atau jurusan teknik. Kuliahin ke jurusan lain aja. Supaya nggak ada lagi yang menciptakan teknologi yang bikin males. Dan kalo misal kuliah di jurusan lain, tolong jangan pake segala teknologi yang ditemukan para insinyur jurusan teknik. Jangan pake laptop atau komputer, nulisnya juga jangan pake ballpoint, pake pena bulu angsa aja. Biar nggak males"

Hihihi. Maksudnya bercanda kok. Tapi kalo boleh nambahin, aku pengen nambahin gini:


  1. Jangan beliin laptop, kalkulator, dsb. Sempoa juga nggak boleh. Kalo mau hitung-hitung, pake jari tangan aja. Biar nggak males. Laptop, kalkulator, dan sempoa, itu temuan para engineer.


  2. Kalo mau bertukar kabar, jangan pake telepon apalagi video chat. Pake merpati pos aja. Biar nggak males. Telepon itu temuan para engineer.


  3. Buat transportasi anaknya, jangan beliin sepeda motor apalagi mobil yah. Beliin kuda aja. Biar kyk pangeran berkuda. Biar nggak males. Kendaraan bermotor gitu temuan para engineer.


  4. Kalo mau mudik, jangan beliin tiket bis, kereta api, kapal laut, apalagi pesawat terbang. Pake kuda tadi aja. Jadi kalo musim mudik, biar pada konvoi berkuda. Biar nggak males.


  5. Mau kirim uang? Coba jangan pake wesel pos apalagi transfer bank. Kirim pake ekspedisi berkuda aja. Biar kyk jaman dulu. Biar nggak males.


  6. Dan yang paling penting, jangan pake pakaian apapun. Karena pakaian dibuat dengan mesin jahit. Mesin jahit dan bahkan jarum jahit adalah karya para insinyur. Pake aja pakaian tanpa jahitan, kyk kain ihram jamaah haji gitu loh.

Hihi.. Dan masih banyak contoh lainnya. Kalo udah begitu, kebayang donk, gimana dunia ini kalo nggak ada engineer dan teknologi temuannya.

Tapi satu yang paling jleb, kyknya bapak lupa kalo anaknya ini dulu kuliah di teknik pertanian. Yang pernah belajar mikirin gimana caranya supaya bahan pangan manusia, bisa disentuh teknologi. Bahan makanan instan ya salah satunya. Termasuk bumbu masak instan yang tadi dikomentarin. Hmmm...

Ambil contoh aja mi instan, yang paling sering dianggap remeh. Kami para insinyur pertanian, terutama yang terkait dengan teknologi pangan, berpikir keras dalam penemuan produk pangan andalan mahasiswa ini. Gimana caranya kemasan mi instan bisa menjaga kadar air di dalam kemasan bisa bertahan pada kondisi ideal, sesuai karakteristik mi. Kadar air mi juga diatur sedemikian rupa supaya mikroorganisme nggak berkembang. Bumbu-bumbu ditakar dengan akurat supaya bisa sesuai untuk menyedapkan 1 porsi hidangan.

Dan itu nggak gampang bro.

Eitttss.. aku disini nggak maksud bilang kalo jurusan teknik dan profesi insinyur lebih penting daripada jurusan atau profesi lainnya loh ya. Aku cuma mau bilang kalo para insinyur, menciptakan atau menemukan teknologi, bukan supaya manusia jadi malas. Mereka menemukan teknologi semata-mata untuk membantu meringankan kerja manusia, dengan memanfaatkan ilmu pengetahuan yang ditemukan para ilmuwan, merekayasa, merancang, lalu merumuskannya supaya bisa diterapkan di dunia nyata, untuk menjadi solusi.

    “Design is directed toward human beings. To design is to solve human problems by identifying them, examining  alternate solutions to them, choosing and executing the best solution.”  
   -Ivan Chermayeff-  

Para insinyur nggak menciptakan teknologi-teknologi itu supaya orang-orang pada males loh. Misalnya mi instan, jangan dikira mi instan diciptakan supaya orang-orang pada males masak makanan lain, makan mi instan aja tiap hari. Mi instan kan nggak dirancang untuk jadi makanan pokok, yang dikonsumsi tiap hari begitu. Mi instan diciptakan supaya bisa jadi bahan makanan saat ada di kondisi yang nggak ideal. Supaya bisa dimasak cuma dengan alat-alat masak sederhana. Makanya mi instan biasa jadi bahan makanan favorit di daerah bencana.

Budak Teknologi
Mungkin yang dimaksud bapak, kenapa teknologi bisa bikin malas, adalah fenomena gagap teknologi di kalangan masyarakat kita, terutama anak muda. Menjelang buka puasa, para remaja putri bukannya bantuin nyiapin hidangan berbuka, eh malah sibuk pencet-pencet blekberi. Saat tarawih, para remaja putra bukannya tarawih, eh malah mampir ke warnet dan game online.

Di kasus itu, teknologi bikin males, aku setuju.

Tapi itu kembali ke orangnya juga. Itulah yang namanya budak teknologi. Jadi inget quote salah seorang dosen aku.

  "Teknologi hanyalah alat, bukan segalanya, bukan tujuan. Manusia adalah yang menciptakan atau menemukan, dan punya tujuan."  

Intinya, kita sebagai penemu dan pengguna teknologi, emang harus pinter memanfaatkan kecanggihan teknologi. Tujuannya ya untuk memungkinkan yang tidak mungkin, dan mempermudah yang sudah ada. Teknologi nggak diciptakan supaya manusia jadi malas kok :-)

Bonus:
note: sumber gambar, silakan klik pada gambar