Bahasa Palembang adalah 'bahasa nasional'-nya Sumatera Selatan (Sumsel). Ya, karena bahasa setiap daerah di Sumsel bisa jadi berbeda. Ada banyak banget rumpun bahasa yang ada di Sumsel. Karena banyaknya itu, maka dibutuhkan satu bahasa pemersatu. Secara nggak tertulis, dan tanpa ada sumpah pemuda Sumsel, dipilihlah bahasa Palembang.


Banyak yang bilang, belajar bahasa Palembang itu mudah, ganti saja setiap vokal akhirannya jadi O. Ya, betul! 'berapa' menjadi 'berapo', 'kita' menjadi 'kito', dan 'lima' menjadi 'limo'.

Tapi nggak gitu juga bro, nggak segampang itu. Misalnya: 'satu' bukan lalu menjadi 'sato', walaupun 'dua' menjadi 'duo' dan 'tiga' menjadi 'tigo', tapi 'empat' bukan lalu menjadi 'empot', lu kire nenek lu empot? 'empat' dalam bahasa Palembang tetaplah 'empat'.

Menarik memang, stereotipe "bahasa Palembang gampang tinggal ganti akhirannya jadi O" itu pertama kali saya dengar saat awal kuliah disini, di Bogor. Baik teman-teman yang orang Sunda maupun Jawa, semua kompak dengan stereotipe yang sama. Lucunya, bahkan saat si orang Jawa dengan nama Yanto, mengucapkan satu kata dalam bahasa Palembang yang berakhiran vokal O, 'berapo' - vokal O yang keluar dari mulutnya itu sama sekali nggak sama dengan vokal O pada namanya. Padahal 'Yanto' dan 'berapo' seharusnya diucapkan dengan vokal O yang sama.

Tapi kali ini saya nggak mau bahas pronounciation-nya, kali ini saya mau bahas satu kata dalam bahasa Indonesia, yaitu 'satu' - dan padanan katanya dalam bahasa Palembang. Kenapa saya tertarik bahas kata ini? Karena ternyata ada hal yang unik, orang Palembang punya 2 macam cara untuk menyatakan kata 'satu', yaitu untuk menyatakan jumlah dan menyatakan urutan.

pempek-palembang

Dalam bahasa Palembang, kata 'satu' adalah 'sikok', pengucapan akhiran '-kok'nya mirip seperti di kata 'berkokok'. Tapi ketika ada orang yang tanya begini:
Cek Yuni: Rengking berapo anak kau? (Eh anak kamu rengking berapa?)
Lalu kamu jawab begini:
Kamu: Rengking sikok la. Hebat kan anak aku? (Rengking satu donk. Hebat kan anak guweh?)

Dijamin bukannya pujian, tapi justru pandangan aneh yang kamu dapat.

Lah emang kenapa rif? Whats wrong?


Karena orang Palembang nggak pernah menggunakan 'sikok' untuk menyatakan urutan. Kami lebih suka menggunakan kata 'satu' untuk menyatakan urutan. So, 'rengking satu' adalah jawaban yang tepat.

Contoh lain: saat ujian, kamu mau mencontek ke temen kamu.
Kamu: Psstt! Bro, jawaban nomor sikok apo? (Pssstt! Bro, nomor satu donk!)

Maka dijamin jawaban yang kamu nantikan tidak akan datang. Misscom bro! Temen ente pasti bingung denger kata 'nomor sikok'. Kalo nyonteknya mau sukses, tanyalah 'jawaban nomor satu apo?'. Itu!

Dalam beberapa kasus, kata 'satu' untuk menyatakan urutan juga sering nggak dipakai. Misalnya untuk menyatakan urutan seperti 'pertama', 'kedua', dst. Untuk kasus ini, biasanya digunakan kata 'pertamo, 'keduo', 'ketigo', 'keempat' (bukan 'keempot'), 'kelimo', dst. Untuk konteks kalimatnya, sama lah dengan di bahasa Indonesia.

Lalu kapan kita pakai kata 'sikok'? Gunakanlah kata 'sikok' hanya untuk menyatakan jumlah. Misalnya:
Kamu: Mang, pempek sikok berapo? (Mang, pempek harga satunya berapaan?)
Mang Juhai: Duo ribu dek. Nak berapo? (Dua ribu aja dek. Mau berapa?)


Atau contoh lain:
Yuk Olah: La berapo anak kau mak ini ari? (Anak kamu udah berapa sekarang?)
Kamu: Baru sikok, yuk. Doake bae pacak nambah lagi (Baru satu mbak. Doain aja bisa nambah lagi)

Gimana? Bisa dimengerti? Jadi nak berapo pempeknyo? Yakin sikok bae?