Masih ingat dengan cerita nelayan yang lagi santai dan pengusaha muda? Ada yang pernah baca cerita itu? Sebuah cerita inspiratif yang menceritakan dua tokoh yang punya cara beda dalam memandang sesuatu.

Pak Ridwan Kamil, Walikota Bandung, jelang semifinal ISL Persib vs Arema. 
Tiap orang pasti punya cara berbeda memandangnya

Cerita apaan tuh rif?

Hihi.. Pada belum baca yah?

Yang belum baca, baca cerita inpiratifnya disini yuk: cerita inspiratif nelayan

Well. Setiap dari kita, pasti punya cara masing-masing dalam memandang sesuatu. Saat ada tanah kosong di pinggir jalan, si mamat yang kelas 5 SD pasti seneng banget, bisa main layangan disana. Beda si mamat, beda pula dengan Uda Daus. Bagi Uda, itu lapangan pasti cocok banget buat dijadiin warung padang. "Onde mande! Rancak bana!", katanya.

Dan pemirsa, saya juga sering melihat realita perbedaan cara pandang begitu.

Belum lama ini, saya dibuat ngakak karena suatu hal di Facebook. Waktu itu ada seorang teman yang mem-post skrinsut post di sebuah group/page. Disana ada akun seseorang, cowok kyknya, nyasar ke sebuah group/page komunitas PHP Indonesia. Disana, dengan polosnya dia bilang:
Ya ampuuun! Ternyata orang Indonesia yang sering di-PHP-in banyak juga ya. Sampe ngebentuk grup. Boleh donk bagi-bagi tips dan ceritanya. Apa agan-agan disini segitu parahnya ya? Sampe cerita dengan bahasa nggak jelas begitu 
Hahaha.. Jujur, waktu itu saya emang sempet ngakak dibuatnya. Yah, sedikit banyak saya tau pasti, PHP disana bukanlah PHP yang dimaksud di cowok itu.

Tapi...

Setelah itu, teman yang sama kembali membagikan sesuatu yang membuat saya agak mengerutkan kening. Dia yang saya tau, adalah seorang aviation geek, dengan lantang menempelkan label "go*lok nggak ketulungan" pada seorang ibu yang awam, yang ada di dalam post berita yang dia bagikan. Karena hal sepele, si ibu memprotes sebuah maskapai Low cost carrier (LCC) gara-gara nggak dapet meal dalam pesawat.

Dan jujur, selama ini saya juga ngira fasilitas meal on board itu memang tersedia di semua kelas penerbangan, nggak peduli itu LCC.

Makanya, akhirnya saya kasih sedikit tanggapan:
Hmm.. Bukan gob*ok kyknya om. Pengetahuan begitu kan bukan pengetahuan yg dipunya bnyk orang...
Ah, kemudian saya sadar. Dua peristiwa berturut-turut itu adalah masalah perspektif, gimana cara kita memandang sesuatu, sudut pandang mana yang kita pilih.

Andai istilah PHP dalam kamus saya adalah sama dengan yang dipunya si cowok pertama, kyknya saya nggak bakal ketawa ngakak deh. Cuma memang kebetulan dalam kasus itu saya dan teman saya itu tau persis apa PHP yang dimaksud. Saya memandang dari sudut pandang orang yang tau, bukan awam.

Saat tiba di kasus kedua, kali itu saya memandang dari sudut pandang orang awam, karena memang saya awam dalam hal itu. Berbeda cara pandang dengan teman saya tadi yang memandang dari sudut pandang orang yang paham. Beda cerita andai saya juga paham, mungkin aja saya mencibir, sama seperti yang dilakukan teman saya itu.

Ente ngomong apaan sih rif?

Hihi.. yah intinya gimana kita bijak memilih sudut pandang aja. Saat menghadapi sesuatu, cobalah memandang tidak hanya dari satu sudut pandang. Coba pandang dari sudut lain. Bisa jadi kamu mendapatkan pandangan yang berbeda. Nggak jarang loh, ada konflik cuma gara-gara perbedaan cara pandang. Karena kita keukeuh mempertahankan pendapat yang kita dapat hanya dengan memandang dari satu sudut pandang.

Semoga tulisan acak-acakan ini bermanfaat yah :-)