Banyak yang bilang, mahasiswa IPB beda sama mahasiswa universitas atau perguruan tinggi lain. Bedanya gimana? Lebih pinter? Lebih jago? Lebih ganteng? Hihi... Nggak juga kok. Biasa aja.


Tapi memang ada beberapa hal yang membuat mahasiswa IPB beda. Salah satunya adalah fakta bahwa mahasiswa IPB semester 1 dan semester 2 adalah siswa SMA kelas 4.

Apaan itu rif?


SMA kelas 4

Hihi... Istilahnya sih begitu...

Jadi, pada tahun pertama (semester 1 dan semester 2), anak IPB belajarnya ya pelajaran SMA. Matematika, Bahasa Indonesia, Bahasa Inggris, PPKn, Pendidikan Agama, Olahraga, Sosiologi, Ekonomi, dll. Semuanya komplit, 36 SKS. SMA banget kan ya?

Dan uniknya, mereka belajarnya gabung dan bercampur dengan mahasiswa dari 'jurusan' lain. Jadi saya yang jurusan/mayor teknik pertanian, belajar bareng dengan mahasiswa lain dari biologi, manajemen, perikanan, peternakan, kedokteran hewan, dll. Semua jadi satu.

Jadi jangan heran kalo mahasiswa IPB semester 1 dan semester 2 masih pada cupu-cupu :D

Rebutan mata kuliah favorit

Hal lain yang menurut saya beda adalah fakta bahwa kuliah di IPB yang menggunakan sistem mayor minor. Jadi, seorang mahasiswa terdaftar sebagai mahasiswa mayor (jurusan) tertentu, tapi dia juga boleh mengambil kredit dari jurusan lain sebagai minor. Bahkan kalo memungkinkan, seseorang bisa mengambil dobel mayor, jadi nanti lulusnya langsung dapat 2 gelar. Wih!

Tapi saya nggak mampu untuk itu, Bahkan khusus untuk mayor saya, disarankan untuk tidak mengambil minor. Tapi cuma mengambil mata kuliah penunjang (supporting course) dari mayor lain, sampai syarat minimum SKS untuk lulus terpenuhi.

Nah biasanya, mahasiswa cenderung mengambil supporting course yang dirasa gampang mendapatkan nilai tinggi. Biasanya, yang jadi favorit adalah mata kuliah yang kreditnya 3(3-0), dan menurut sejarah, gampang dapat nilai A. 

Makanya saat semester baru dimulai, ribuan mahasiswa IPB akan bertarung sikut-sikutan untuk rebutan mata kuliah favorit. Akibatnya, server KRS online sering kali down. Hihi.. Kenangan masa lalu..

Anak teknik, ambil kuliah ekonomi

Yap. Itu pengalaman saya. Waktu itu ada libur panjang akhir tahun ajaran. Saya terpaksa nggak pulang kampung karena ada kegiatan di kampus. Itung-itung daripada buang waktu, saya ambil semester pendek, 2 mata kuliah, masing-masing 3 sks. Lumayan nambah kredit.

Ngambil apa kamu rif?

Mau tau waktu itu saya ambil apa? Saya ambil ekonomi pertanian, dan ekonomi sumberdaya. Agak kurang nyambung dengan mayor saya, teknik pertanian.

Saya dulu juga mikir, ini ilmu gunanya buat saya apa ya? Ngapain saya ambil kuliah ini? Cuma ikut-ikutan temen aja?

Tapi waktu terus berlalu, saya selesaikan kuliah itu. Dan alhamdulillah, hasilnya memuaskan. Puas rasanya, nggak sia-sia liburannya di-delay. Tapi pertanyaan yang sama masih melekat, ngapain saya ngambil kuliah itu? Apa gunanya buat saya?

Tak Ada Ilmu yang Sia-sia

Pertanyaan itu baru terjawab beberapa hari yang lalu. Setelah saya lulus kuliah, dan sekarang lanjut belajar lagi. 

Sekarang saya belajar di program studi teknologi informasi untuk manajemen sumberdaya alam. Dan kemarin, pada kuliah kapita selekta (selected topics), dosen yang masuk adalah dosen ekonomi sumberdaya dari UGM. Beliau menyampaikan materi yang dasarnya pernah saya dapatkan dulu di mata kuliah ekonomi sumberdaya (resources economics).

Aih! Pertanyaan saya dulu akhirnya terjawab. Disinilah ilmu itu terpakai. Rasanya nggak salah dulu pernah ambil mata kuliah itu. Hebatnya lagi, kemungkinan besar saya akan menerapkan ilmu itu dalam penelitian saya nanti. Rencananya, saya mau menganalisis dengan GIS, lokasi optimal untuk pengembangan peternakan ayam broiler, dengan pertimbangan faktor ekologi dan ekonomi. Disanalah ilmu itu diterapkan.

Hmm.. Ilmu emang nggak ada yang sia-sia yah..